“The bad news is time flies. The good news is you’re the pilot.” (Michael Althsuler)

BERBAGAI UNGKAPAN untuk menggambarkan betapa sibuknya seseorang: Waktu cepat berlalu;  rasanya saya kekurangan waktu; delapan jam kerja sehari tidak terasa; baru juga selesai buat plan, sudah harus laporan Q-1; dan masih banyak lagi.

Apa yang terjadi?

Semua punya waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Tapi kata Leonardo Da Vinci:

Time stays long enough for those who use it.

Lalu di mana letak perbedaan pandang tentang waktu, dari orang yang berbeda-beda? Apa jadinya kalau atasanmu mengatakan: “Saya tidak punya waktu… untuk bicara dengan anak buah, untuk coaching, untuk melaksanakan Performance Appraisal, untuk memikirkan pengembangan anak buah, dan lain-lain?

Ukuran Penting dan Mendesak

Kita semua familier dengan empat kotak yang menjadi patokan mengambil keputusan berdasarkan prioritas:

Kali ini saya hanya ingin menyoroti kotak “Penting Tapi Tidak Mendesak” dalam pengambilan keputusan untuk Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bagi saya ungkapan “Penting Tapi Tidak Mendesak” sama dengan “Sangat Penting.”

Mengapa demikian??

Perencanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia adalah perencanaan jangka panjang, terutama dalam konteks suksesi. Dalam membahas suksesi ini, kita sering dihadapkan pada situasi di mana ada yang keluar atau pensiun dan tidak ada pengganti atau penggantinya belum siap.

Diskusi lalu memasuki kotak Penting dan Mendesak. Memang betul demikian. Tapi apakah kita ingin dalam situasi seperti ini setiap mendiskusikan suksesi?? Tentu saja tidak.

Dan solusinya tentu saja, perencanaan itu perlu dilakukan sejak dini untuk jangka yang lebih panjang. Saat rencana ini didiskusikan, kita masih berada dalam koridor: Penting Tapi Tidak Mendesak. Tapi bagi saya, diskusi suksesi dalam situasi Penting Tapi Tidak Mendesak ini justru menjadi Sangat Penting agar terhindar dari kemungkinan terjebak dalam kondisi sangat mendesak di kemudian hari, karena tidak siap.

Kendali di Tanganmu

Apa jadinya kalau atasanmu mengatakan: “Saya tidak Punya waktu… untuk bicara dengan anak buah, untuk coaching, untuk melaksanakan Performance Appraisal, untuk memikirkan pengembangan anak buah, dan lain-lain?” Atau apa jadinya kalau Anda sebagai Manager yang merasakan demikian: Tidak Punya Waktu??

Stephen R. Covey pernah mengungkapkan:

The key is not spending time, but in investing it.” 

Salah satu aspek penting yang dilakukan oleh orang-orang sukses adalah me-manage waktu secara tepat-guna. Tapi ini hanya mungkin terjadi kalau Anda pemegang kendali dari waktu dan jelas apa tujuanmu hari ini, minggu ini, bulan ini dan seterusnya.

Ini akan membantu bila ada penugasan baru atau ada interupsi dari orang lain untuk melakukan tugas baru, ada alat banding untuk menentukan mana yang perlu diprioritaskan. Dan sering kali terjadi interupsi itu kita yang buat sendiri, semisal dengan luangkan waktu untuk menelusuri email yang tidak terbilang jumlahnya setiap hari. Andalah yang menentukan prioritas itu.

Luangkan Waktu untuk Bawahan Bersumber dari Hati

Di posting 5 Juli 2012, disajikan diskusi via Twitter dengan tagar : #CurhatSTAFF dengan mengambil tema: “Ciri-ciri boss yang Peduli akan Pengembangan Anak Buahnya” antara lain:

  • Berperan sebagai Coach/Career Coach.

  • Beri kesempatan selalu karyawan untuk diskusi, ajukan ide, mendengar, menghargai serta mengapresiasi.

  • Mau luangkan waktu untuk observe dan kenal lebih deket “strength + weakness” anak buahnya.

  • Bisa menjadi teman sekaligus mentor yang asik bagi team-nya karena saling engage.

  • Yang suka nanya staf-nya sudah training apa saja, mau training apa lagi.

Sistem memang bisa mengatur sekaligus mewajibkan para manager untuk mengerjakan tugas penting berkaitan dengan Sumber Daya Manusia. Namun dalam pelaksanaannya, suara hati nurani para manager akan menentukan apakah ini benar-benar menjadi Penting di agenda kerjanya.

Coretan berikut ini mungkin bisa menggugah kita, bahwa burung-burung ini saja tahu memanfaatkan waktu, apalagi manusia…

How do geese know when to fly to the sun?

Who tells them the seasons?

How do we, humans know when it is time to move on?

As with the migrant birds, so surely with us,

there is a voice within if only we would listen to it

that tells us certainly when to go forth into the unknown.

– Elisabeth Kubler-Ross

 

-Josef Bataona

Sumber: Blog http://www.josefbataona.com