“We don’t live through life only by our own experiences, we live through life with other people’s experience and a reference too.” (Nike Thaddeus)

MOMENT KEBERSAMAAN dirancang khusus hari itu. Aslinya acara Buka Puasa Bersama seluruh keluarga Corporate Human Resources. Seluruh keluarga, artinya tidak ada atribut yang menjadi penghalang. Tidak ada direktur, kepala bagian, supir, pantry staff. Semuanya adalah anggota keluarga yang hadir dalam kebersamaan sore itu. Quintet SEMYR, internal CHR Talent, mulai mengalunkan lagu-lagu yang mengajak kita untuk refleksi dan mensyukuri berbagai anugerah yang sudah kita terima sejauh ini.

Refleksi: Berapa Sering Kita Lakukan??

Tema yang diangkat untuk acara ini, “Buka Puasa: Self reflection as a way to choose our Positive Attitude.”

Saya mengajak team untuk menghayati lagi keempat Falsafah FISH:

  • Be There. Hadir dan terlibat dengan tulus melayani dalam tugas masing-masing. Secara fisik dan emosional hadir untuk orang lain.

  • Make Their Day. Luangkan sedikit waktu menyapa teman, memberi perhatian tulus, mengulurkan tangan membantu, demi membuat hari kawan itu ceria penuh motivasi.

  • Play. Kerja dan bermain hendaknya dilihat sebagai dua hal yang terintegrasi: bekerja dengan cara menyenangkan adalah nuansa PLAY. Ini akan memacu kreativitas tim untuk menemukan cara-cara baru.

  • Choose Your Attitude. Apapun perilaku kita, itu adalah pilihan penuh kebebasan. Dalam setiap kejadian, kita punya sekian detik untuk memutuskan apa reaksi terhadap kejadian itu, bisa positif, bisa negatif.

Kemudian, dalam konteks Choose Your Attitude, saya mengajak seluruh tim untuk  melakukan refleksi, tentang perjalanan sehari ini. Apakah ada pengalaman bagus yang patut kita syukuri, tapi dibiarkan berlalu begitu saja. Atau pengalaman sebaliknya, yang memberikan pelajaran, misalnya untuk menghindari emosi, marah, kekesalan, kalau saja sebelum bertindak kita berkesempatan untuk memilih, walau dalam hitungan detik.

Mengendalikan Diri

Berapa sering kita mengalami seperti sharing teman di bawah ini. Apa reaksi kita?

“Pagi-pagi ketika saya sampai di tempat parkir motor, saya melihat ada space yang kosong di antara dua motor. Karena motor yang parkir menghadap ke depan saya harus menyamakan posisi hadap motor saya. Sengaja saya lewatkan sedikit motor tersebut agak menjauh agar bisa parkir sambil mundur. Begitu selesai mematikan motor saya siap-siap mundur dengan posisi saya masih di atas motor… eh ternyata ada yang menyerobot langsung mengisi parkir dengan posisi kepala motor langsung masuk ke dalam (tidak sama dengan posisi hadap motor di kanan-kirinya)… dan ternyata biker cewek ..

wah… tanpa menoleh kanan kiri dia mematikan motornya langsung meninggalkan motornya… berjalan menuju pintu stasiun.

Ya ampun .. gimana sih nih orang.. orang mau ngisi parkir kok diserobot…… what am I supposed to do?

Akhirnya saya ngomong ke diri sendiri: oke dech boss….. sambil mencoba menenangkan hati,  saya starterr lagi sambil mencari tempat yang kosong yang terletak tak jauh di depan … akhirnya dapat deh tempat parkir sambil memarkirkan motor, saya masih mikir apakah saya harus teriak-teriak untuk urusan sekecil itu… nggak perlu lah…..santai bro santai…

Saya belajar dari kejadian itu agar bisa mengendalikan nafsu amarah.” (BS)

Mengabaikan Kesempatan untuk Bersyukur

Banyak kejadian di tempat kerja yang luput dari pengamatan. Mungkin karena kecil, mungkin karena rutin, atau bagian dari pekerjaan sehingga kita menganggap: memang seharusnya demikian. Begitu kita melakukan refleksi lebih dalam, baru terlihat maknanya, seperti kisah teman ini:

“Refleksi kecil dari apa yang saya alami. Kemarin saya dan anak buah meeting hampir seharian untuk me-review data yang cukup kompleks untuk dianalisa. Awalnya saya merasa bisa kerjakan sendiri, namun pada saat diskusi baru saya menyadari bahwa ternyata ada hal-hal yang bisa disumbangkan juga oleh anak buah,  hal-hal yang tidak dan belum terpikirkan sebelumnya oleh saya. Dalam meeting itu, tiba-tiba muncul rasa syukur dan terima kasih dengan kehadirannya, dan diberikan kesadaran bahwa saya belum tentu tahu semua, jangan sombong dan menganggap diri lebih dan selalu bisa belajar dari orang lain.

Terkadang saya merasa itu memang kewajiban atau pekerjaannya, tapi bahwa dia put effort untuk ikut berpikir, memberikan ide dan bisa dengan nyaman saling mengisi dalam diskusi, saling men-challenge dengan suasana yang tetap positif, itu yang sangat saya syukuri. Dan saya sudah ceritakan dan sampaikan rasa syukur dan terima kasih langsung kepadanya pagi ini.” (EPH)

Uluran Tangan Spontan

Pernahkah kita berdiam sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya mendapatkan support spontan dari teman? Mengapa dalam tiap kepanitiaan, kawan-kawan secara sukarela dan senang menawarkan bantuan, walaupun sudah ada tim yang bertugas untuk itu.

Perlu dicatat juga bahwa keputusan untuk memajukan acara Buka Puasa Bersama ini sangat mendadak dan tim hanya diberi waktu sehari untuk persiapannya.

Atas pertanyaan untuk refleksi yang saya lontarkan pada acara Buka Puasa Bersama, maka teman ini sharing refleksinya, sebuah pembelajaran untuk diri sendiri tapi juga untuk semua kita:

“Pada persiapan buka puasa kemarin tim Choose Your Attitude mendapatkan bantuan dari rekan-rekan lain yang tidak tergabung dalam tim Choose Your Attitude. Mereka semua dengan tulus memberikan bantuan mulai dari memberi saran di mana membeli makanan yang enak (ingat cuma sehari persiapan), mengantar membeli makanan, membantu meminjamkan peralatan dari Divisi lain, mempersiapkan ruangan & makanan, serta bantuan-bantuan lainnya.

Sungguh suatu hal yang tidak ternilai jika mempunyai teman-teman yang menakjubkan. Dan saya sangat berterima-kasih untuk itu.” (RH)

“You learn something every day if you pay attention.” (Ray LeBlond)

Simak juga posting berikutnya: Respek dan Mengaku Salah (Refleksi 2)

 

 

-Josef Bataona

Sumber: Blog http://www.josefbataona.com