Putri bungsu saya Rizky Sagita Daniar sudah cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor dan mengambil SIM A. Di saat liburan kuliah, iapun mengikuti kursus setir mobil di dekat rumah kami selama 5 hari penuh masing-masing 2 jam. Di tempat kursus, sengaja saya memilihkan mobil yang digunakan untuk latihan sejenis dengan mobil yang kami miliki yaitu Daithatsu Xenia R Sporty keluaran 2016, transmisi manual. Tujuannya agar Daniar langsung bisa “siap pakai” sehingga akan meringankan tugas saya sebagai supir keluarga. 

Selesai kursus, ia diantar untuk ikut ujian SIM A hingga lulus dalam tempo 1 hari saja. Persis seperti saya dulu, ia sangat bangga dengan SIM A pertamanya hingga ia pamer ke teman-temannya, share di media sosial miliknya. 
Giliran saya mempersilakan ia mulai mengemudikan mobil kami sendiri, ternyata tak semulus yang saya harapkan. Saya menemukan kompetensinya masih jauh di bawah seharusnya.

Secara refleks saya membandingkan dengan kompetensi diri saya yang sudah nyetir sejak umur 13 tahun (baca : saya punya 43 tahun pengalaman nyetir mobil). Untunglah segera saya sadar bahwa perbandingan tersebut tidak fair, tidak apple to apple. Maka sayapun mencari kompetensi dasar seorang supir pemula saja sebagai standar minimum.

Saat mengeluarkan mobil kami dari garasi untuk pertama kali, Daniar langsung menabrak pagar rumah kami hingga mobil kami yang sangat mulus menjadi penyok. Kebetulan jalanan di depan rumah kami agak menanjak, saya melihat bahwa ia belum mampu mengatur keseimbangan antara rem tangan, kopling (maklum mobil kami manual), dan gas sehingga berkali-kali mesin mobil mati.

Saya memutuskan untuk tidak memberikan idzin kepada Daniar untuk mengendarai mobil (walaupun sudah dapat SIM A) di jalan raya sebelum saya yakin bahwa ia benar-benar menguasai kompetensi dasar mengemudi. Sayapun mulai memberikan “coaching” dan pelatihan tambahan secara privat (baca : gratis) kepadanya untuk memperbaiki kompetensi dasarnya.

Mempersiapkan SDM yang Siap Pakai 
Sepanjang hidup, saya sangat sering mendengar keluhan berbagai pihak dari kalangan dunia bisnis tentang lulusan perguruan tinggi yang mereka nilai tidak siap pakai. Pada suatu waktu sayapun mengalami hal serupa ketika saya harus rekrut para fresh graduates dari berbagai perguruan tinggi terkemuka. 
Saya ingat saat menonton TV di tahun 1985, Prof. DR. Fuad Hasan (almarhum) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu - tampak gusar menanggapi keluhan dari dunia bisnis hingga ia berujar : “ Perusahaan yang mau merekrut fresh graduates seyogyanya ikut bertanggungjawab dalam mengasah kompetensi mereka, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan”.

Pengalaman saya dalam “merekrut” Daniar sebagai generasi penerus “supir” di keluarga kami, membenarkan apa yang disampaikan oleh mendiang Prof.DR. Fuad Hasan. Daniar sudah ikut kursus intensif hingga lulus ujian dan mendapatkan SIM A ..... kurang apa lagi ???? Tetap saja ia tidak serta merta langsung “siap pakai”. Masih perlu sentuhan / polesan tambahan dari saya sebagai orang yang “merekrut”nya.

Saya sebagai “bos” harus meluangkan waktu ekstra untuk memberikan coaching kepada Daniar sebagai “anak buah”. Bukan sekadar berbagi pengalaman dan pembelajaran, tetapi saya mengalokasikan waktu untuk memberikan coaching karena saya yakin akan mampu meningkatkan performa Daniar. Bila performa Daniar meningkat, maka pekerjaan saya sebagai “supir” di keluarga akan jauh terbantu sehingga seluruh keluargapun akan merasakan manfaat yang lebih besar..... semula hanya punya 1 supir yang sudah tua, nanti akan ada 2 supir handal.

Antisipasi Risiko Berbuat Kesalahan
Selain meluangkan waktu untuk coaching, sebagai “CEO” dari keluarga, saya harus memberikan kesempatan kepada Daniar untuk bereksperimen dan melakukan kesalahan. Sekali ini dia nabrak pagar rumah kami sendiri, bisa jadi lain kali dia nabrak pagar rumah tetangga, maka sebagai CEO saya harus mengantisipasi anggaran untuk menanggung konsekuensi dari kesalahan yang dibuat oleh Daniar sebagai “anak buah” saya.

Saya melakukan coaching dengan sangat telaten kepada Daniar. Bukan hanya saya ingin menciptakan budaya coaching di keluarga inti, lebih dari itu suatu saat nanti Daniar harus melakukan coaching kepada anggota timnya di tempat kerja dan pasti keluarganya kelak. Saya meyakini bahwa dia akan semakin bersemangat dan berkomitmen tinggi untuk melakukan coaching bila dia sudah terbiasa menerima coaching dari “atasan langsung”nya..... sampai hari ini si atasan langsung itu adalah saya.

Komitmen dan Kecintaan Terhadap Coaching

Hasil penelitian terkini dari BlessingWhite menemukan korelasi yang kuat antara seorang manager yang mendapatkan coaching dari atasannya dan komitmen mereka untuk juga memberikan coaching kepada anggota timnya. Dengan demikian organisasi akan berhasil menciptakan coaching menjadi budaya turun temurun.

Coaching merupakan salah satu ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Cara paling efektif untuk membentuk ketrampilan coaching adalah melalui pengalaman sendiri dan role model yang diperlihatkan oleh atasan langsung.

Dari semua manager yang kami survei, 79% setuju dengan pernyataan “I love to coach”:

  • Dari jumlah itu ternyata terdapat 76% manager yang mengaku tidak mendapatkan coaching dari atasan mereka .

  • Ada 83% mengaku mendapatkan coaching dari atasan mereka, ternyata sangat bersemangat untuk melakukan coaching kepada anggota tim mereka. 

Dalam hal komitmen untuk mengalokasikan waktu untuk memberikan coaching kepada anggota tim juga terdapat perbedaan yang menyolok yaitu 11%.

  • Hanya 54% manager yang tidak menerima coaching dari atasan mereka yang bersedia menyediakan waktu cukup untuk memberikan coaching.

  • Sementara para manager yang menerima coaching dari atasan mereka, 65% menyatakan selalu menyediakan waktu cukup untuk memberikan coaching. 

  • Namun kesenjangan (gap) terbesar yaitu sebesar 21 point terdapat pada : 

Ekspektasi : Terdapat 78% manager yang memiliki kesadaran bahwa mereka diharapkan untuk memberikan coaching kepada anggota timnya.

  • Di antara para manager yang tidak mendapatkan coaching dari atasan mereka, hanya 69% yang sadar bahwa mereka diharapkan untuk memberikan coaching dan mengembangkan tim mereka. 

  • Sementara para manager yang mendapatkan coaching dari atasan mereka, 90% memiliki kesadaran bahwa mereka diharapkan untuk memberikan coaching dan mengembangkan tim mereka. 

Keyakinan Terhadap Manfaat Coaching : Terdapat 64% manager yang yakin akan manfaat dari coaching yaitu mampu meningkatkan hasil.

  • Tapi ternyata, hanya 54% dari manager yang tidak mendapatkan coaching dari atasan mereka memiliki keyakinan tersebut. 

  • Sementara dari para manager yang mendapatkan coaching, terdapat 75% meyakini bahwa coaching akan mampu meningkatkan hasil.

Pada 2009 saat BlessingWhite melakukan penelitian tentang dinamika coaching, kami menemukan konsistensi yang kuat dimana terdapat kesamaan pada 5 perilaku terpenting dipandang baik dari sudut manager yang memberikan coaching dan anggota tim yang menerima coaching. Hasil penelitian itu bukan hanya mengutakan kejelasan dalam komunikasi dan disiplin dalam proses, tetapi anggota tim juga memerlukan penghargaan dan lebih banyak keterlibatan.

Berdasarkan penelitian tersebut, kami menyimpulkan bahwa tingkat keyakinan organisasi terhadap manfaat coaching dan hubungan yang konstruktif antara coach dengan coachee merupakan “ruh” dari membangun budaya coaching. Bahkan kami menemukan bahwa hubungan saling percaya yang dilandasi dengan niat baik dalam coaching dapat menjadi asset yang lebih besar daripada ketrampilan coaching itu sendiri.

Organisasi yang telah memiliki budaya coaching mengatakan bahwa mereka mengalami kenaikan signifikan dalam hal “contribution and satisfaction” dari karyawan dimana mereka memperoleh manfaat besar dari pengalaman para manager.

 


Bagaimana kami bisa membantu Anda dan perusahaan Anda? Hubungi kami di email : info@kinerja.id, atau telepon 08952-KINERJA, 08983658217, follow us @blessingwhiteID

 

Ikuti Program TERBAIK  dan TERLARIS  Kinerja BlessingWhite Indonesia

Pada Tanggal 15 Maret - 16 Maret 2017

Untuk Pendaftaran Online Klik : http://hrplasa.id/event/view/1134/authentic-leadership-why-should-anyone-be-led-by-you