Bos saya baru mendapatkan pelatihan tentang coaching. Dia  lagi semangat banget untuk membagi ilmunya dan mengundang  semua manager di bawahnya, termasuk saya, untuk dia berikan latih tentang  coaching. Setelah itu, dia minta kami untuk juga memberikan coaching kepada anggota tim kami masing-masing.

Di dalam pembicaraan tentang bagaimana meningkatkan kemampuan untuk memberikan coaching, salah satu sejawat manager  mengemukakan pandangan berdasarkan pengalamannya : “Saya punya 5 anggota tim, tapi tak satupun saya kenal dengan keluarganya, siapa nama anak-anak mereka, sekolah dimana, apa hobinya, bagaimana rencana mereka….. dan seterusnya”.

Pernyataan yang apa adanya tersebut  mampu membuat semua orang terkesima dan berpikir keras.  Bila kita tidak mampu mengenali anggota tim kita secarapersonal, kita tidak akan pernah berhasil melakukan coaching untuk mencapai sukses di masa depan. Hingga hari ini, kami menyadari bahwa prinsip ini sebenarnya masuk akal, sayangnya sering kita lupakan – CONNECT FIRST, COACHING SECOND

Hari ini, coaching menjadi sesuatu yang sangat populer. Banyak vendor pelatihan – termasuk kami – yang “panen” karena banyak organisasi yang berinvestasi besar untuk mendidik para manager mereka agar memiliki ketrampilan di bidang coaching. Setiap organisasi ingin menjadikan coaching sebagai suatu budaya. Namun berdasarkan temuan kami di lapangan, kita tidak akan pernah mampu menciptakancoaching sebagai suatu budaya bila hanya mengandalkan ketrampilan coaching saja.  Tanpa melengkapi diri dengan beberapa ketrampilan lain terlebih dahulu, maka budaya coaching yang kita bangun hanya akan “gone with the wind”

Bila budaya coaching yang kita maksud adalah kemampuan seorang manager untuk mempengaruhi perilaku dan kinerja anggota tim yang dipimpinnya, maka terlebih dulu kita harus mendalami (deep dive) tentang membangun hubungan antara coachdengan coacheemanager dengan anggota timnya.

Kepercayaan (TRUST) tetap merupakan kunci. Namun TRUST adalah sesuatu yang harus bisa dirasakan, bukan hanya diajarkan di kelas-kelas pelatihan. Kami meyakini   3 kriteria yang akan muncul bila dalam membentuk TRUST.  Istilah resmi dan formalnya  yaitu Laughter, Humility, Curiosity. Tapi saya lebih suka menggunakan istilah gaul kita  yang kekinian (NGAKAK, IKRIB, KEPO).

1. Laughter (Ngakak)

Orang Inggris bilang : “Laughter is the best medicine (even when you are not sick)“. Beruntung saya berkali-kali mendapatkan  bos yang selalu bisa mengajak semua anggota timnya ngakak bareng. Setiap kali kami ngakak, serasa kami bersama-sama menghancurkan “tembok Berlin” yang merupakan dinding pemisah kami – antara bos dengan anak buah.

Pada saat yang sama kami  serasa memperbarui TRUST yang telah terbina sebelumnya. Dengan cepat, ikatan emosional di antara kami terbangun dan tanpa disadari kami menjadi lebih kreatif, komitmen terhadap pekerjaan semakin kuat, dan akhirnya menjadi produktif. Michael Kerr – CEO Human at Work – mengatakan ” Orang yang terlalu serius malah dianggap tidak serius oleh orang lain….”. Sampai akhirnya saya merasakan bahwa ngakak menjadi bagian vital dalam membangun hubungan kerja yang sehat, kuat, tahan lama.

 

2. Humility (Ikrib)

Di saat awal menjadi manager sekian puluh tahun silam, saya sangat menikmati kegiatan jaga image (jaim) dalam membangun kewibawaan diri. Saya juga membangun image sebagai orang yang cool, tanpa emosi. Semua itu saya harapkan akan membangun kesan profesional. Pada kenyataannya justru memberi dampak yang sebaliknya. Semakin aktif saya jaim dan cool, saya telah membangun tembok pemisah diri dengan anggota tim. Mereka  justru melihat saya sebagai orang yangunapproachable dan lebih parah lagi untrustworthy. Mereka melihat saya bukan sebagai human. 

Parahnya tak seorangpun yang memberikan feedback kepada saya (termasuk bos) hingga suatu saat saya mendapatkan sejawat baru yang direkrut dari luar – sebutlah si Fulan. Dia sering berbagi  emosinya walaupun negatif, dan pengalamannya terutama dalam  kegagalan. Dengan berjalannya waktu, kedua hal tersebut ternyata menjadi kunci penting yang menjadikannya  lebih efektif daripada saya sebagai sesama manager. Dengan berbagi emosi (misalnya dalam mendengar secara empati), dia telah membuka pintu kepada anggota timnya untuk melakukan hal yang sama. Sedikit demi sedikit, anggota timnya merasa aman dan nyaman untuk berbagi dengannya.

 

3. Curiosity (Kepo)

Saya melihat si Fulan memiliki rasa  ingin tahu (kepo) yang besar terhadap kehidupan anggota timnya, di luar pekerjaan. Fulanpun tidak segan untuk berbagi sebagian kisah kehidupannya. Dalam beberapa kali makan siang bareng si Fulan, saya mendapatkan satu prinsip penting yang harus digunakan saat kita  “kepo” kepada anggota tim kita : “Being curious does not mean asking others to reveal their  biggest mistake in life !”.Belakangan memang terbukti bahwa memiliki rasa kepo tentang kehidupan di luar pekerjaan dari anggota tim kita merupakan komponen penting dalam membangun hubungan kerja yang sehat, kuat, tahan lama.

Bila kita  menginginkan budaya coaching terbangun dengan kuat, pastikan bahwa kita tidak melihat manusia sebagai robot, sadar bahwa  setiap orang memiliki kehidupan (bukan hanya di kantor), dan jangan perlakukan mereka terlalu serius. Tawa, Ikrib, Kepo…bila ketiganya hidup di dalam hubungan antara manager dengan anggota tim, maka organisasi telah memiliki fondasi yang kuat dalam interaksi antar manusia sehingga membentuk TRUST. Sekali TRUST sudah terbentuk, barulah kita bisa mulai membangun budaya coaching.

Ada pesan dari seorang eks CEO sebuah perusahaan nasional berskala dunia. Dia berbagi pengalaman bahwa orang bule pada umumnya cocok dan menyukai coaching dalam pekerjaannya. Orang Jepang, Korea, dan Taiwan tidak terlalu percaya kepada coaching, yang penting adalah bagaimana mencapai target. Lalu bagaimana dengan orang Indonesia ? Nah menurutnya kita selalu ada di posisi nanggung. Bila diperlakukan dnegan target oriented pada umumnya kita tidak suka, bahkan tersinggung. Bila diperlakukan dengan coaching yang memanusiakan manusia, pada umumnya ngelunjak. So……?

 

 

 

- Reza Soedomo

Managing Partner at Kinerja-BlessingWhite

 

 

Ikuti Program TERBAIK  dan TERLARIS  Kinerja BlessingWhite Indonesia

Pada Tanggal 15 Maret - 16 Maret 2017

Untuk Pendaftaran Online Klik : http://hrplasa.id/event/view/1134/authentic-leadership-why-should-anyone-be-led-by-you