“There is a way that nature speaks, that land speaks. Most of the time we are simply not patient enough, quiet enough, to pay attention to the story.” (Linda Hogan)

SELAIN MANUSIANYA yang ramah dan bersahabat penuh senyum, Manado tidak bisa lepas dari kuliner dan pemandangan alam. Untuk bisa menikmati masakannya, kita juga harus berani berhadapan dengan rasa pedas dan juga makanan laut. Setiap kali berkunjung, ada saja restoran baru yang ditawarkan. Tapi kali ini saya ingin berbagi tentang keindahan alamnya.

Berbagi Kegembiraan

Suasana alam yang bersih dan segar di sekitar Bukit Mahawu membuat kita melupakan sementara ruangan ber AC. Ada taman luas yang dipelihara rapih, karena di sana juga ada tempat doa, baik itu dalam kapel ataupun di alam terbuka di bawah pepohonan.

Pesona Alam1

Langit dan bumi seakan berlomba memamerkan keindahannya. Langit biru cerah yang sesekali ditutupi sebagian oleh awan putih seputih kapas, ingin memberikan kontras pada warna hijau yang ditawarkan rumput pepohonan dan gunung sebagai latar belakang.

Pesona Alam2

Bahkan berdoa di dalam kapel pun serasa masih berada di alam terbuka, karena depannya tertutup kaca bening dengan pemandangan luar yang masih nampak jelas.

Pesona Alam3

Di sana ada kesempatan untuk bercanda dan bergurau menyaksikan ulah pemotret ataupun model fotonya, atau gembira dengan saling berbagi hasil foto.

Pesona Alam4

Tanpa harus menunggu pentas untuk ditonton, kami pun bisa membuat sendiri pentas untuk dinikmati sendiri di arena amphitheater.

Pesona Alam5

Yang menyenangkan adalah berbagai foto itu hanya sekedar alasan untuk kami mengagumi dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan.

Hijau Memukau

Sejauh ini saya hanya mengenal danau tiga warna itu adalah Danau Kelimutu yang terletak di puncak gunung di Maumere Flores NTT. Ternyata ada lagi sebuah danau tiga warna bernama Danau Linow di daerah Tomohon.

Pesona Alam6

Danau belerang itu didominasi warna hijau. Ditunjang oleh langit yang cerah, di sana-sini terlihat refleksi warna biru dari langit dan putih dari awan. Di postingan FB jelang kembali ke Jakarta, saya hanya berkomentar satu kata: Mengagumkan.

Pesona Alam7

Tapi di lubuk hatiku yang paling dalam, saya merasakan getaran kekaguman sambil memanjatkan puji syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Rahim, Pencipta alam semesta, yang mengaruniai kita alam Indonesia yang Indah.

Pesona Alam8

Bukan sekali ini saya ke Manado. Tapi dalam perjalanan di pesawat menuju ke Jakarta, batin saya seakan membisikkan, kamu harus kembali lagi ke sana atau ke belahan Indonesia lainnya. Belum semua yang kamu lihat. Dan sayapun tersadar, bahwa itu bukan mimpi, tapi sebuah dorongan kuat dari dalam setelah melakukan refleksi pengalaman selama kunjungan singkat ke Manado.

Pilot barusan mengumumkan  kalau pesawat sudah meninggalkan ketinggian jelajahnya, perlahan turun menuju bandara Soekarno Hatta. Tak terasa ini merupakan artikel ketiga yang saya tuliskan selama penerbangan ini, sekaligus menutup kisah kunjungan singkat ke Manado dan Bitung.

“I love to think of nature as an unlimited broadcasting station, through which God speaks to us every hour, if we only will tune in.” (George Washington Carver)

 

-Josef Bataona

Sumber : Blog http://www.josefbataona.com