“Anyone can plot a course with a map or compass; but without a sense of who you are, you will never know if you’re already home.” (Shannon L. Alder)

SELF ASSESSMENT. Itulah istilah kerennya yang digunakan untuk memberikan peluang untuk menilai diri sendiri. Menilai seberapa jauh seseorang mencapai target. Seberapa jauh progress menuju pencapaian tertentu. Apa yang sudah dilakukan untuk menjalankan komitmen tertentu.

Mengapa banyak teman yang menyukai atau tidak menyukaiku. Mengapa semua lamaran kerja saya belum ada yang ditanggapi. Dan masih banyak lagi alasan untuk melakukan penilaian tentang diri sendiri.

Keterbukaan dalam Penilaian Formal

Sering sekali kita melakukan progress review untuk sebuah pekerjaan atau proyek yang kita lakukan secara bersama-sama. Tetapi di sana kita menilai hasil tim itu dibandingkan dengan rencana awal. Terkadang diperlukan juga usaha untuk menilai kontribusi masing-masing anggota tim. Karena hanya dengan demikian kita bisa membedah dan melihat di mana atau pada siapa kita bisa memberikan perhatian ekstra bila langkah perbaikan diperlukan.

Sama halnya seperti penilaian kinerja tahunan di tempat kerja, banyak yang memulai dengan self-assessment sebelum atasan memberikan penilaian. Bila dalam rencana itu jelas target individunya maka langkah self-assessment bisa dengan mudah dilakukan.

Dalam Keseharian

Dalam file lamaku, ditemukan sebuah cerita menarik. Seorang anak pergi ke pesawat telepon dekat kasir dari sebuah toko dan menelpon seseorang. Pemilik toko itu mencermati pembicaraan itu secara diam-diam:

Tukang Rumput

Anak: “Nyonya, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di tamanmu?”

Nyonya: (menjawab di ujung telepon sana) “Sudah ada yang mengerjakannya.”

Anak: “Saya bisa mengerjakan dengan separoh gaji yang nyonya bayarkan kepadanya.”

Nyonya: “Saya sangat puas dengan hasil kerjanya saat ini.”

Anak: (penuh tekad) “Saya akan juga membersihkan lantai rumah secara cuma-cuma.”

Nyonya: “Tidak, terima kasih.”

Dengan penuh senyum anak itu meletakkan kembali gagang telpon. Pemilik toko yang mendengarkan percakapan tersebut menghampiri anak itu dan berkata:

Pemilik Toko: “Nak, saya suka dengan perilakumu dan semangat positifmu. Saya ingin menawarkan pekerjaan untukmu.”

Anak: “Tidak, terima kasih.”

Pemilik Toko: “Tetapi kamu sangat menginginkan pekerjaan.”

Anak: “Tidak pak, saya hanya mengecek kepuasan nyonya itu akan hasil kerja saya. Sesungguhnya saya adalah pemotong rumputnya saat ini.”

Langkah yang dilakukan anak ini merupakan sebuah contoh sederhana untuk mengetahui bagaimana penilaian orang lain pada dirinya. Tapi tentu saja dia sudah melakukan penilaian sendiri bahwa hasil kerjanya sudah bagus. Namun demikian, yang diharapkan lebih lanjut adalah dia akan bekerja lebih giat lagi untuk meningkatkan hasil kerjanya.

Improvement always begins with ‘I’

Sub-judul ini untuk memberikan kita kesadaran bahwa banyak hal yang bisa dilakukan berkaitan dengan diri sendiri, dan memulainya dari diri sendiri. Dalam melakukan penilaian pada diri sendiri, ada hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

Kejujuran dalam mengetengahkan penilaian. Kita bahkan tidak berani memberikan nilai lebih ataupun memberikan nilai kurang sehingga penilaian diberikan pada tingkat rata-rata agar aman.

Kalaupun kita jujur mengetengahkan kekurangan, kita juga terlalu fokus pada langkah memperbaiki kekurangan itu, dan sedikit memberikan perhatian pada aspek strength yang juga perlu ditingkatkan lagi.

Walaupun orang lain atau lingkungan bisa menjadi penyulut ketidakberhasilan, namun mulailah melihat ke dalam, aspek dalam diri sendiri yang bisa diangkat untuk menyikapi lingkungan tersebut.

Langkah ini penting dilakukan karena selanjutnya kita akan mulai dengan perbaikan diri sendiri. Menyiksa diri sendiri dengan terlalu fokus pada kekurangan dan mengabaikan kekuatan diri juga tidak disarankan. Dan dengan memulai pada diri sendiri juga akan mencegah kita untuk menyalahkan orang lain dan lingkungan untuk sekedar memaafkan diri sendiri.

Bila hal ini kita jalankan maka mudah-mudahan hidup kita lebih tenang dan bahagia, dan tetap semangat dalam meraih apa yang dicita-citakan. Jadilah dirimu sendiri, namun terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik hari ini dibandingkan dengan dirimu kemarin, dan besok lebih baik dibandingkan dengan hari ini. Itulah makna pegangan hidupku:

“Be Yourself but Better Everyday” (Josef Bataona)

 

-Josef Bataona

Sumber: Blog http://www.josefbataona.com