“In the changing environment we are in, as a coach it is important to realize that my biggest customer is the people I am coaching.” (Byron and Catherine Pulsifer)

PAGI PENUH INSPIRASI. Jelang acara dimulai saya berkeliling untuk menyalami peserta. Salah seorang peserta datang dari Medan untuk menghadiri conference ini. Penasaran saya menanyakan, ada alasan khusus hadir hari ini? Jawabnya spontan: “Saya ingin ketularan energy positif dari semua peserta yang hadir hari ini.”

Ini menginspirasi saya untuk memulai presentasi pagi itu dengan cerita pendek di atas, apa makna dibalik itu, sekaligus menyambung benang merah kenapa semua kita menghadiri congress penting hari itu.

6 Juni 2017_Coaching Membangun Budaya Saling Percaya1

Mindset Positif

Slide pertama yang saya kedepankan dalam presentasi pagi itu berbunyi:

“Coaching is a profession of LOVE. You can’t coach people unless you LOVE them. (Eddie Robinson)

Semua yang hadir hari itu tentu berprofesi sebagai coach atau coaching trainer atau mereka yang sungguh percaya bahwa kita hanya bisa melakukan coaching kalau kita sungguh peduli pada coachee atau mengasihi mereka dengan tulus. Karena itu, tidak berlebihan kalau kawan yang saya temui sebelum acara dimulai, begitu yakin akan mendapat inspirasi positif dari semua peserta yang hadir.

Dan pesertapun menyambut dengan tepuk tangan meriah ketika saya menyampaikan: “Ini berarti semua yang hari ini hadir sungguh membawa aura positif karena berprofesi sebagai coach atau setidaknya percaya pada manfaat coaching.”

Jaringan Global

Indonesia Coaching Movement (ICM) yang diselenggarakan hari itu bukan conference biasa. ICM adalah gerakan sosial yang dirintis para coaches anggota komunitas Coachnesia (Coaching for Indonesia), alumni Global Scale Coaching School Erickson Coaching International di Indonesia. ICM merupakan bagian dari “Human and Leadership Global Movement” yang disebut World Game, yang beraksi di 20 negara, serupa Olimpiade tapi untuk “Human Development and Leadership Transformation.”

Sebagai bagian dari program ICM, terdapat pula agenda “Coaching Ensamble” di mana peserta dalam kelompok kecil mencoba mendiskusikan langkah kecil apa yang bisa dilakukan sebagai kontribusi untuk Indonesia yang lebih baik.

6 Juni 2017_Coaching Membangun Budaya Saling Percaya2

Perubahan dari Puncak Organisasi

Memperkenalkan coaching berarti memperkenalkan perubahan. Kita semua menyadari bahwa perubahan akan berjalan dengan lebih cepat kalau dimulai dari pimpinan puncak organisasi. Namun demikian, bagaimana kalau karena alasan tertentu, perubahan yang dikehendaki (memperkenalkan coaching), belum menjadi prioritas pimpinan tertinggi? Apakah kita harus menunggu sampai saat yang tepat?

Saya menyodorkan opsi untuk definisi pimpinan tertinggi, bisa berupa pimpinan di puncak organisasi; bisa juga pimpinan divisi atau bahkan pimpinan pabrik atau unit yang lebih kecil. Ini untuk memberikan peluang agar bisa memulai inisiatif perubahan “within our circle of influence”.

Dan unit kecil atau divisi yang sudah mulai menciptakan leader sebagai coach, akan membangun budaya coaching, yang sekaligus menciptakan perubahan pada pola komunikasi antar anggota tim secara horizontal maupun vertical. Kata orang bijak:

“The best coaches really care about people. They have a sincere interest in people.” (Byron & Catherine Pulsifer)

Mudah-mudahan mereka ini bisa menjadi agen perubahan yang menyebarkan virus positif ke unit/divisi lain di perusahaan atau organisasi manapun mereka berada.

Implementasi di Lingkup Beragam

Dewasa ini semakin disadari di masyarakat, bahwa dengan keberagaman dan juga perubahan yang berjalan sangat cepat, coaching bisa memainkan peran penting. Karena itu, tema ICM 2017 adalah “Indonesia Unites! – Embracing Diversity in Disruptive Age.” Foto berikut adalah tim dibalik suksesnya conference.

6 Juni 2017_Coaching Membangun Budaya Saling Percaya3

Metode coaching ini dapat digunakan sebagai metode komunikasi dalam keseharian seorang leader atau manager dengan bawahannya di perusahaan atau organisasi. Bisa juga diterapkan dalam komunikasi konsultan dan klien, dokter dengan pasien, guru dan murid, orang tua dan anak-anak.

Tapi di manapun Coaching ingin diterapkan, akan diawali dengan membangun fondasi TRUST, antara kedua belah pihak. Karena itu, komitmen seorang leader menjalankan coaching merupakan komitmen seorang leader yang peduli pada anak buahnya. Bukan sekedar menjalankan job description, tapi merupakan panggilan hidup.

Connecting The Dots

Jaring gerakan di 20 negara, bila tersambung akan bisa memberikan kontribusi yang maksimal. Ilustrasi game di penutup acara menghasilkan rangkaian benang beraneka warna. Ini memperlihatkan beragam inisiatif yang diambil.

6 Juni 2017_Coaching Membangun Budaya Saling Percaya4

Nampak kompleks karena memang tidak muda. Tapi yang sangat penting adalah jaringan itu diciptakan para peserta dengan penuh sukacita, dan mereka juga sangat gembira melihat hasilnya yang beraneka warna. Itu baru satu jaringan di Indonesia. Bila seluruh jaringan global tersambungkan, dan selanjutnya terus menyebar ke sekitarnya, maka kita boleh mengharapkan bahwa perubahan telah terjadi menuju dunia yang lebih baik.

“The goal of coaching is the goal of good management: to make the most of an organization’s valuable resources.” (Harvard Business Review)

 

-Josef Bataona

Sumber: Blog http://www.josefbataona.com