“Understanding the true meaning of accountability makes us strong and enables us to learn” (Sameh Elsayed)

SEBENTAR LAGI akan banyak tulisan di berbagai media atau kartu, memohon maaf lahir dan batin. Sebuah langkah yang tulus karena mengakui bahwa sebagai manusia biasa kita tidak akan lepas dari kesalahan. Tapi kepada siapa permohonan maaf itu ditujukan?

Mungkin saking banyaknya kesalahan yang sudah kita perbuat maka kita ingin memohon agar dimaafkan tanpa menyebutnya satu persatu. Semoga mereka berkenan untuk membukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

Aku yang Salah

Berbuat salah itu manusiawi. Namun demikian, Confucius mengingatkan:

“If you make a mistake and do not correct it, this is called a mistake. (Confucius)

Tapi bagaimana mungkin kita melakukan koreksi kalau kita tidak mengakui kesalahan itu? Kesempatan belajar dari kesalahanpun akan lewat begitu saja. Kata Maxwell:

“A man must be big enough to admit his mistakes, smart enough to profit from them, and strong enough to correct them.” (John C. Maxwell)

Tapi maukah saya menyampaikan ketiga kata ini: Aku yang Salah

Siapkah saya menertawakan kesalahan sendiri atau malah berusaha menyembunyikannya? Simak pesan bijak berikut ini:

“Strong people make as many mistakes as weak people. Difference is that strong people admit their mistakes, laugh at them, learn from them. That is how they become strong.” (Richard J. Needham)

Karena itu saya akan berusaha untuk berani mengakui: Aku yang Salah

Menerima Tanggung Jawab

Mengapa masih ada saja kecenderungan dalam diriku untuk melempar kesalahan pada orang lain?

20 Juni 2017_Aku yang Salah

“For most people, blaming others is a subconscious mechanism for avoiding accountability. In reality, the only thing in your way is YOU.” (Steve Maraboli)

Mungkinkah EGO-ku bisa diredam agar aku berani mengakui kesalahan? Mungkin kita harus mulai dengan melihat tanggung-jawab kita masing-masing.

“You are the reason of your own good-luck and bad-luck; success and failure; happiness and pain. Your choices are responsible for your present. Don’t blame someone else for your sufferings or failures.” (Sanjeev Himachali)

Menerima sebuah tanggung-jawab adalah pilihan. Menerima konsekuensi kesalahan yang dilakukan juga merupakan pilihan, tapi pilihan bagi mereka yang berjiwa besar untuk mengakui kesalahan itu.

Tanggung-jawab Pemimpin

Banyak pimpinan idaman, yang melihat bahwa mengakui kesalahan sendiri adalah bagian dari strategi keterbukaan. Dia memberikan contoh kepada anggota timnya untuk juga melakukan hal yang sama, mengakui kesalahan yang diperbuat. Namun demikian, dalam bekerja kelompok, terkadang kesalahan terjadi karena implementasi sebuah strategi yang dari awalnya sebetulnya sudah ada kesalahan dalam pengambilan keputusan.

Dalam hal seperti itu, sang pemimpin juga harus berjiwa besar untuk mengatakan secara terbuka: Aku yang Salah

Menyadari berbagai kesalahan yang kuperbuat sendiri, ataupun kesalahan yang dilakukan dalam tim di mana saya yang memimpin, di tempat kerja, di masyarakat ataupun di keluarga, saya ingin menyampaikan secara terbuka: Aku yang Salah

Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon Maaf Lahir dan Batin.

Dan bagi saudara/saudariku dan semua sahabat yang merayakan, tidak lupa kami sekeluarga menyampaikan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H

Semoga Allah Yang Maha Rahim berkenan mengampuni kita semua dan memberkati kita dengan hidup Rukun dan Damai.

“God’s forgiveness allows us to be honest with ourselves. We recognize our imperfections, admit our failures, and plead to God for clemency.”  (Jonathan Sacks)

 

 

-Josef Bataona

Sumber : Blog http://www.josefbataona.com